Cerita Seks Bebas: Dosa-dosa Terindah (Kisah Nyata)
Cerita seks bebas ini merupakan rangkuman kisah nyata dari perjalanan hidup seorang pria petualang seks bernama Tyo. Tentunya cerita seks bebas ini menarik untuk anda baca sebagai hiburan khusus bagi anda yang sudah dewasa. Cerita seks bebas ini cukup panjang, oleh karena itu saya pangkas dalam beberapa bagian sehingga menjadi beberapa episode yang akan saya update beberapa hari lagi. Intinya rajin-rajinlah berkunjung ke blog ini untuk mendapatkan updatenya. Nah, silahkan dibaca serunya perjalanan Tyo dalam berburu kenikmatan yang tersurat dalam cerita seks bebas berikut ini:
Cerita Seks Bebas – Tina
Nama gue Tyo. Umur gue 27 tahun. Ini adalah dosa terindah yang pernah gue lakuin.
Lebaran tahun ini, gue sekeluarga pulang kampung ke Solo. Ritual tahunan menyambut hari raya yang sudah lama tidak kami jalani. Selain dari kami sekeluarga sibuk dengan urusannya masing-masing, juga karena sudah tidak ada lagi kakek-nenek yang menjadi alasan kami pulang kampung.
“lebaran tahun ini kita mudik, ya.. kalo bisa kalian cuti. kalo ngga bisa, ya, kita tiga hari aja disana.” kata bokap, seminggu sebelum hari raya.
mudik lebaran memang selalu menjadi momen paling menyenangkan buat gua. selain bisa berkumpul dengan keluarga juga bisa menikmati alam desa yang jauh dari polusi dan persaingan. liburan terbaik adalah mudik lebaran.
hanya saat mudik lebaran gua bisa ngobrol bareng kakak pertama gua panjang lebar. hanya saat mudik lebaran gua bisa bercanda dengan kakak kedua gua. dan hanya saat mudik lebaran gua bisa curhat ngalor ngidul dengan kakak ketiga gua. kami empat bersaudara. kakak pertama gua 35 tahun, laki-laki, belum menikah. kakak kedua gua 32 tahun, laki-laki, baru saja menikah. dan, kakak ketiga gua 29 tahun, perempuan, belum menikah. itu lah salah satu alasan kenapa gua 27 tahun, belum juga menikah.
Mudik lebaran punya arti tersendiri buat gua. dahulu, ketika masih kecil, bokap setiap tahun mengajak kami pulang kampung. kala itu mudik lebaran terasa sangat mewah, karena adik-adik bokap juga mudik sekeluarga. jadilah setiap tahun saat gue masih kecil, keluarga besar dari bokap berkumpul di rumah kakek. sangking ramainnya, empat kamar yang ada dirumah kakek tak dapat menampung kami semua. biasanya, anak-anaknya memilih tidur di depan tv ketimbang numpang tidur di rumah adiknya kakek. dan dari situasi ini lah, kebejatan gua tumbuh.
waktu itu gua baru mau masuk smp kelas 1. kami mudik sekeluarga. begitupun adik-adik bokap. rumah kakek ramai sekali. selain dari keluarga besar kami, juga berkumpul keluarga dari adiknya kakek.
“ayo tidur dirumah mbah aja..” kata adiknya kakek gue, yang mana juga gua panggil mbah.
“engga, ah mbah. tidur disini aja.” kata gua menolak ajakannya.
keluarga dari adiknya kakek gue ini emang cukup dekat dengan keluarga gue. adik kakek gue ini adalah pakle yang paling perhatian sama bokap gue. selain kesamaan pemikiran antara mereka berdua, juga karena adiknya kakek gue ini umurnya gak jauh beda sama bokap gue. pun begitu dengan anak-anak mereka. anak pertamanya perempuan, 38 tahun, sudah menikah. anak keduanya laki-laki, 30 tahun, sudah menikah. dan anak ketiganya, 25 tahun, perempuan, belum menikah. dan anak terakhirnya itulah yang menjadi objek dicerita ini. dialah tokoh yang akan kita bicarakan.
namanya tina. panggilannya tinatun. dipanggil tinatun karena waktu kecil perawakannya mirip sekali dengan penyanyi cilik yang membawakan lagu bolo-bolo itu.
di malam gua disuruh tidur dirumah adiknya kakek, malah tina yang akhirnya tidur dirumah kakek gue. dia memang cukup angkrab dengan kakak perempuan gua, dan sepupu-sepupu perempuan gua lainnya. malam itu tina tidur disebelah gue. kita tidur satu bantal, karena bantal jatah gue gak gue pake buat kepala, melainkan gua jadiin guling. awalnya biasa saja, sambil tiduran nonton tv dan ngobrol santai dengan posisi masing-masing telentang, siap untuk tidur. gue bahkan udah merem duluan saat tina, kakak perempuan gue, dan sepupu-sepupu gue masih ngobrol santai.
Cerita Seks – malam semakin larut, suasana semakin hening. gue terbangun karena kedinginan. bantal yang gue jadiin guling udah raib, entah kemana. tina tidur disebelah gue dengan nafas khas anak kecil yang gemuk. napasnya bak berenang disamudra atlantik. keras sekali untuk ukuran anak kecil. mengingat kita satu bantal, napasnya yang keluar dari mulut cukup mengganggu gua untuk kembali tidur. awalnya gua menutup mulutnya dengan tangan gua. gua rasakan bibir lembutnya ditelapak tangan gua. karena kita satu bantal, posisi tangan gua yang menutup mulutnya persis seperti orang sedang merangkul. otomatis jika telapak tangan gua nutup mulutnya, maka siku gua mendarat dekat dadanya.
awalnya gua benar-benar menutup mulutnya, lalu entah dengan sengaja atau tidak, siku gua sudah berada tepat diatas dadanya. dada anak perempuan kelas 5 sd memang tak seberapa, namun bagi anak laki-laki yang baru akan masuk kelas 1 smp tentu bisa membuat ereksi.
gua pun sudah tidak lagi menutup mulutnya dengan telapak tangan. gua malah memainkan bibirnya. gua pegangin bibir bagian atas dan bawahnya sambil membayangkan adegan mesum. sesekali gua masukin jari gua ke mulutnya, sesekali juga dia tampak terbangun. setiap dia sepertinya terbangun, gua berpura-pura tidur. begitu seterusnya sampai gua memberanikan diri memegang dadanya.
awalnya hanya dengan gerakan yang seolah-olah tak disengaja, lalu akhirnya gue benar-benar memegang payudaranya dengan telapak tangan gue. gue berdebar. campuran antara takut, enak, dan excited dengan pengalaman baru ini. tak puas menjamah dadanya, gua pun mulai menjamah daerah kemaluannya. awalnya gua taro tangan gue di pahanya, kemudian dengan sistematis, telapak tangan gua sudah menguasai vaginanya. kemudian gua beranikan diri untuk mengulum bibirnya. gua benar-benar kalap. celana kolor tina gua plorotin sampe batas dengkul. bajunya gua angkat sampai batas leher. dan, yang sampai sekarang masih tak habis pikir jika membayangkannya, gua meniduri dia. gua betul-betul menikmati adegan bejat gua tersebut dengan perasaan was-was ada yang melihat. sampai akhirnya gua “ngecrott” untuk pertama kalinya dalam hidup gua. yup, itu adalah pertama kalinya si ariel muntah.
apakah tina sadar? itu pun adalah pertanyaan yang terus membayangi gua sampai pertemuan kita selanjutnya. tapi sejauh logika gua, dia jelas sadar, karena tak cukup mudah mengeluarkan air mani pada debutnya. belum lagi, karena kelelahan ngecrot untuk pertama kalinya, gua lupa membetulkan pakaian tina yang mirip orang dibius itu. tapi pagi harinya, tanda-tanda tina marah akan kelakuan gua tak tampak sedikit pun. seperti tak terjadi apa-apa.
hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tahun demi tahun sudah berlalu sejak kejadian itu, gua kembali ketemu tina. nama tinatun sudah tak lagi melekat di dirinya. dia tumbuh menjadi perempuan umur 25 tahun yang seksi. cantik dan mempesona. jika dia tidak tinggal di desa, di ibu kota misalnya, mungkin dia sudah menjadi artis yang populer, minimal akun instagramnya berfollower ratusan ribu lelaki hidung belang dan umkm yang ingin meng-endorsnya.
tina senyum-senyum waktu gue sekeluarga datang ke rumahnya. salah satu alasan bokap ngajak mudik adalah ingin mengunjungi orang tua tina.
tina memakai rok diatas dengkul dengan atasan kaos belel. belahan roknya cukup tinggi, hingga membuat bagian mesum dari diri gua arisan didalem otak. alamak, batin gua waktu melihat perubahannya. sebenernya, saat sma dan kuliah, gua juga sudah sempat ketemu dengan tina, namun saat itu, tak ada yang istimewa dari dia. hari ini, tina tampak berbeda sekali. tingginya sekitar 165cm, beratnya tak lebih dari 60kg. payudaranya tak begitu menggoda, tapi bokongnya, “ah, anjrit, enak nih di doggy..” batin gua, mesum.
“apa kabar, kau, lek? sibuk apa sekarang? kuliah?” tanya gua. gua gak punya panggilan wajib ke dia. kadang namanya, kadang “lek” kadang “tante” atau “mba”. sebenernya, yang paling betul gua memanggil dia “lek” (bulek) tapi karena kita seumuran, bahkan gua lebih tua, jadilah gua suka-suka aja manggilnya.
“baik, mas. ini sibuk ngurusin ibu aja. kuliahku udah selesai.” jawabnya. senyumnya selalu mengembang. menyejukkan.
“wah, hebat. mau lanjut s2 atau gmn?”
“iya, maunya sih gitu. tapi mau cari kerja dulu..”
“udah ngirim lamaran kemana?”
“kemarin sih, ikutan cpns. tapi pengumumannya belum ada. sama ini paling, nungguin panggilan dari xx..”
“wuiih, hebat ngelamar di xx.”
“hehe begitulah, mas..”
tina ini perempuan yang pintar. smp dan smanya hanya 5 tahun. dan menyelesaikan kuliah s1 selama 3 tahun saja. kurang cukup fakta bahwa dia pintar? selama menuntut ilmu, biaya yang dia habiskan masih bisa dihitung dengan hanya mengingat-ingat, tanpa memerlukan buku catatan. sebagian besar biaya sekolah dan kuliahnya ditanggung pemerintah alias beasiswa.
mudik lebaran kami tahun ini ternyata menjadi angin segar untuk tina merantau ke jakarta. selama ini ibunya tak memberikan ijin karena khawatir dengan tina. tina sebenarnya bisa saja melawan, karena merasa bisa jaga diri, namun dia memilih menurut apa yang dikatakan ibunya. sungguh perempuan yang manis sekali.
sampai akhirnya, bokap gua memberikan semacam rekomendasi, “udah, biarin tina kerja di jakarta. saya nanti yang jaga dia..”
ibunya tina hanya pasrah. bokap gua melanjutkan, “lagian kalo tina di jakarta, kerja disana, punya penghasilan, dia bisa bantu beli-beli apa kek. atau malah buat bangun rumah kontrakan. dari pada gak ngapa-ngapain disini..”
“iyo, mas. aku yo wes ikhlas, tina arep kepriye. wes manut karo rencanane..” jawab ibunya. sebenernya, sebelum bokap bicara sama ibunya tina, bokap lebih dulu ngobrol sama tina, dan dari obrolan itu, bokap menangkap sesuatu yang akhirnya di utarakan.
***
malam minggu, sebulan setelah pertemuan gua sama tina di Solo, gua nelepon dia. gua nelepon dia karena, update statusnya di bbm “malem minggu di Solo sama di Jakarta sama aja, kok. beneran deh..”
“kamu di Jakarta??” tanya gua
“hehe iya. udah dua minggu.” jawabnya manja
“wah, songong. gak ngabarin!”
“hehe, belum sempet, Yo. kemarin itu kan, sampe sini, langsung menuhin panggilan xx, terus keterima, terus balik lagi ke Solo, ambil barang, cari kosan, terus udah mulai masuk kerja. jadi belum sempet ngabarin, hehe..”
“luarbiasaaa.. jadi sekarang kerja di xx. sukses deh.. kos dimana?” sampai sini gua udah membayangkan lagi dikamar kosannya. dasar mesum!
“iya, amien. aku kost di Tebet.”
“sekarang lagi di kosan? aku mau main ah. hehe.” fyi, gua nelepon dia jam 11an.
“ngga. aku lagi main. hehe” jawabnya
“ciee, anak kosan, udah jam segini masih keluyuran aja. main dimana?”
“hehe, ngga, kok. ini main dirumah temenku. di Bekasi.”
“hah? temennya cowo? jauh amat mainnya..”
“ngawur! cewe lha. temenku dari Solo. ini rumah kakaknya, iya jauh banget..”
“trus, malem minggu dirumah aja? gak keluar? kamu mau nginep disitu?”
“tadi sih udah keluar, males tapinya. aku udah dari pagi disini, mau pulang gak enak sama dia, tapi males tuh, suntuk disini..” kode banget, gak sih, bro?
“aku jemput ya..”
“hah? jangan ah, kasian, jauh. udah malem juga. besok aja.” sodara-sodaraku sekalian, kalimat ini bukanlah menolak, hanya ngetes seberapa serius kita ngajak dia, harap di perhatikan.
“sebentar..” kata gua. gua buka gmaps, Jakarta – Bekasi, lengkap dengan jarak dan perkiraan waktu yang ditempuh. screen capture, sent.
“kamu ngirim apaan ini?” kata tina sesaat setelah melihat gambar yg gua kirim.
“seberapa jauh sih ke Bekasi? seberapa lama nungguinnya, hah? Bekasi doang jauh, jauh mah noh, Solo, jauh..”
“hehe..” dia cuma bisa tertawa mendengar usaha gua.
“aku kesana ya..”
“beneran?”
“iya. ini aku jalan. kirimin alamatnya..”
“yowes, aku tunggu. hati-hati..”
***
tepat jam 12 malem, gua udah mendarat di Bekasi. setelah mengikuti instruksi tina dari telepon, sampailah gua di rumah temennya. tina udah nunggu gua di depan gerbang rumah. gua berdandan layaknya mau berkunjung ke rumah gebetan. bersih, rapih, dan wangi. dari dalam mobil gua udah liat tina yang berdiri deket gerbang sambil cengengesan.
tina udah pake piyama. sebenernya dia udah mau tidur, tapi sepertinya dia juga gak bisa menolak gua.
piyama tina bener-bener buat gua salah tingkah. piyamanya tipis dan pas dibadan. lekukan badannya keliatan jelas. bahkan kancutnya tampak nyeplak dibalik celana pendeknya. pikiran gua makin mesum.
Tina ngenalin gua sama temennya, Rossa. mereka bedua tampak akrab, dan Rossa tampak tak keberatan gua dateng jam segitu. Tina keliatan seneng ketemu gua. gua semakin keranjingan. setelah ngobrol ngalor ngidul, gua ngajak mereka keluar. sebenernya gua cuma mau ngajak Tina, tapi atas dasar pengertian, gua juga ngajak Rossa. batin gua, kalo gak dapet Tina, ya nyikat si Rossa. ternyata iblis memihak gua, Rossa gak mau diajak.
“bener nih, gak mau ikut?” kata Tina, setelah ganti pakaian. kali ini dia pake jeans ketat dengan atasan kaos belel. belahan dadanya timbul tenggelam.
“ngga. aku ngantuk. kamu aja deh yg pergi. tapi, awas ya kalo ga balik! pokoknya kamu harus nginep disini nemenin aku.” jawab Rossa.
“iya, iya. daaahhh”
“pergi dulu ya, Ros..”
sambil menuju mobil, gua berbisik ke Tina, “masa nanti balik kesini lagi? yang bener aja..” Tina cuma ngasih kode untuk cepet-cepet masuk mobil.
setelah di dalem mobil, sambil benerin sepatu yang belum sempurna terpakai Tina ngomong, “males aku juga nginep. dicurhatin calonnya terus..” gua cuma ketawa dan kita pun pergi.
kejadian-kejadian setelahnya, memantapkan diri gua untuk mengulangi yang pernah gua lakuin ke Tina. salah satunya adalah, rumah kakaknya Rossa itu di dalam perumahan khas Bekasi, yaitu perumahan di dalam perumahan. banyak sekali gang. banyak sekali jalan. karena gua berpikir Tina tau jalan, mengingat dia yang ngasih intruksi ke gua untuk sampe kerumah itu sebelumnya. tapi ternyata Tina modal sotoy, dia gak tau jalan, dia cuma ngandelin logikanya dan sayangnya, jalanan diperumahan dalam perumahan yang ada di bekasi gak ada logika.
kami nyasar. masuk satu gang, buntu. masuk gang yang lain, diportal. gang yang lainnya lagi, jalannya ditutup karena lagi dicor.
Tina ketawa lepas saat gua mulai komentar kalo dia sotoy. dia seolah merasa bersalah sekaligus geli dengan kenyasaran kami ini. sesekali, saat meyakinkan bahwa jalan yang kita lalui itu bener, dia sambil menyentuh gua. menyentuh tangan, lalu kepala, dan pundak. suasana didalam mobil cair sekali. tidak ada sikap yang menandakan kalo dia adalah bulek gue, atau bisa disebut tante. tidak ada sama sekali kesan tersebut. justru kita seperti sepasang gebetan.
“kita mau kemana nih?” tanya Tina. setelah kami benar-benar sudah keluar dari Bekasi.
“puncak, yuk?” jawab gua ngasal
“hah? ngapain? emoh! mending balik kostan, tidur!” jawabnya, sambil terus memainkan hp. gua mulai berani membekap mulutnya saat dia bereaksi terlalu berlebihan. gua sudah benar-benar mengulangi apa yang dulu gua lakuin ke Tina yang masih jadi Tinatun.
anehnya, tiap kali gua membekapnya, reaksi dia jauh dari kata tidak suka atau marah. dia hanya melepaskan tangan gua yang menutup mulutnya dengan lembut, kemudian kami berpegangan untuk beberapa saat. begitu berulang-ulang.
“nonton bola aja kalo gitu. gimana? ada nobaran nih..” sebenernya rencana gua adalah ngajak dia ke hotel, tapi karena gua kurang yakin apakah kejadian yang sudah gua lewati sejalan dengan apa yang gua inginkan, gua menundanya. gua butuh situasi-situasi yang lebih meyakinkan, yang lebih syahih, kalo di Tina mau gua ajak berzina.
“dimana?”
“di pancoran.”
“siapa yang main?”
“yeh, kaya tau bola aja..” ledek gua.
“tau lah, apa lawan apa? abisnya jam berapa? pulang pagi dong..”
“Milan lawan Inter. derby coy. paling selesai jam 3, buka kamar aja, ntar..” terus terang gua cukup berani ngomong begitu ke dia. dan bener aja, dia membisu menatap gua. gua deg-degan. gua senyum-senyum salah tingkah. suasana membeku. beruntung, radio yang menyala mengeluarkan lagu kesukaannya. seketika dia menambahkan volumenya. bahkan, terlalu besar. gua menoleh penuh pertanyaan, dia tersenyum..
“hehe, sorry..” reaksinya, kemudian suasana kembali cair. dia ikut bernyanyi. dia hafal betul oleh lagu tersebut. Rachel Platten – Fight Song
This is my fight song, Take back my life song, Prove I’m alright song, My power’s turned on, Starting right now I’ll be strong. I’ll play my fight song, And I don’t really care if nobody else believes, ‘Cause I’ve still got a lot of fight left in me
***
Sepanjang pertandingan saat nonton bola, dia gak ngelepasin pegangannya ke gua. merangkul. memeluk lengan gua. bersandar di dada gua. betul-betul menggairahkan. setelah bola selesai, gua mengantarnya ke kosan dia. dan pengorbanan gua jemput dia ke bekasi berakhir coli di kamar mandi, karena kostan dia ga bebas. “tidak hari ini, kawan. tapi pasti dapat! secepatnya!” bisik iblis menenangkan diri gua yang sedikit kesal.
***
senin malemnya, kami sudah bertemu lagi. kali ini alibi gua ngajak ketemu dia adalah, “temenin nonton yuk..” dia menolak tapi bersedia didatangi ke kosannya. dia masih pakai seragam ten waktu gua ketemu dia di deket kosannya. kita akhirnya hanya makan malam. sepanjang makan, dia sibuk chat sama pacarnya. yup, tina punya pacar. lebih mengerikan lagi, pacarnya adalah polisi. tapi berkat bacaan dan tontonan mesum, hal tersebut tak menggoyahkan hasrat gua sedikit pun. justru, gua merasa lebih bagus kalo tina punya pacar, artinya gua tak perlu menyetuh hatinya untuk bugil di depan gua. gua pun punya pacar, dan tina tau itu. dan lucunya, kami sama-sama menjalani hubungan jarak jauh. LDR.
kostan tina ini berada satu rumah dengan pemiliknya, dan pemiliknya adalah seorang yang agamis. sebenernya disekitaran kost tina banyak sekali kost-kost las vegas, entah mengapa tina memilih kostnya ini. mungkin karena dekat dengan kantor, atau harganya yang cukup murah dibandingkan kost lainnya. tina keliatan sedikit ragu mengajak gua ke kamar kostnya. selain tamu lawan jenis dilarang masuk ke kamar, tamu juga tidak boleh berkunjung lebih dari jam 12. mungkin karena dia merasa bahwa gua masih saudara/kerabat yang memberanikan dirinya mengajak gua ke kamarnya.
“aku belum pernah bawa masuk cowo ke kamarku, lho..” katanya, waktu membuka pintu kamarnya. seketika hawa panas dan pengap keluar saat pintu dibuka. kamar tina jauh dari kata rapih. ukuran kamarnya kecil dan barangnya banyak sekali. menambah gerah suasana kamarnya. tapi gua tak peduli, sebentar lagi gua akan berduaan sama dia di kamar. gua langsung masuk, dan mendaratkan badan gua di kasur.
“wuuaahhhh.. gila, gerah banget nih kamar.” komentar gua.
“banget..” jawabnya singkat.
pintu kamar tina masih terbuka. dia membereskan buku-buku, dan pakaian yang berserakan dilantai. gua tidak mempedulikan dia, di dalam pikiran gua hanya ada, “bagaimana cara memulainnya?”
“sek, aku tak mandi dulu..” tina masuk kamar mandi. gua semakin memutar otak. kurang lebih dia berada dalam kamar mandi selama 10 menit, dan buat gua, itu 10 menit terlama yang pernah gua lalui. tina keluar kamar mandi memakai daster selutut warna krem. pahanya tampak jelas. bokongnya begitu menggoda gua. gua masih tiduran dikasurnya. gua mulai berkhayal, memulai serangan. belum selesai gua berkhayal, dia meminta gua bergeser. “geseran..” katanya. oh may bob..
tina menjatuhkan diri dikasur. masih dengan hpnya. kemudian selang beberapa menit, dia ngechas hpnya. gua duduk membeku disampingnya. kemudian, seolah iblis jav membisikkan kata-kata, lalu gua memegang betisnya, terasa adem, karena abis mandi. gua mulai memijatnya. kemudian menarik-narik jari kakinya. “aduhh, enak..” katanya spontan. dan spontan pula gua menyuruhnya duduk.
“duduk sini, aku pijitin.” kata gua. seolah jalan menuju crot, hampir tiba. dia duduk membelakangin gua. gua mulai memijat bahunya, kemudian kepalanya. gua benar-benar memijatnya dengan pijatan semi-pro, karena gua memang biasa di pijat, jadi gua tau cara memijat. ketika memijat kepalanya dari belakang, gua sengaja menyandarkan badannya ke badan gua yang sedikit lebih tinggi karena gua bertumpu pada lutut saat memijat. jelas, si ariel terasa dipunggungnya.
menutupi situasi tersebut, dia bicara “bisa ya, kamu mijet. belajar dimana? pasti diajarin ibumu..” gua semakin bersemangat. gua benar-benar membuat dia nyaman, meski si ariel yang mengeras menyentuh punggungnya, dia tak bereaksi kikuk. santai, bahkan menikmati. lalu gua mulai memijat bagian belakangnya, mulai memegang tali bhnya. sedikit gerakan lagi tangan gua sudah di dadanya. gua semakin berdebar. tapi juga semakin nafsu, dia tak sedikit pun merespon saat gua dengan sengaja menyentuh dadanya. lalu saat hendak mengendus bagian lehernya, hp dia bunyi. pacarnya menelepon. sial! gua masih belum beranjak dari posisi ketika memijat dia. sedangkan dia sudah berbaring sambil menelepon.
posisi kami berlawanan, bedanya gua gak tiduran, gua duduk bersandar tembok, dan dia tidur tengkurep sambil bermanja-manja ria. perasaan gua campur aduk. apa yang sedang gua lihat adalah apa yang gua inginkan dari kemarin! dengan jelas gua melihat isi dalam daster. hhuuuuaaaa. meski tidak bisa dikatakan mulus, tapi apa yang gua lihat cukup untuk dijadikan bahan coli.
gua memberanikan diri memaikan kaki. kaki gua bergerak-gerak menyentuh pahanya. bokong tina bisa gua lihat dengan jelas. lipetan kancutnya membuat tangan gua gak bisa dikontrol. gua dengan gaya sok biasa, memberikan pijetan lagi ke tina. kali ini, langsung ke pusat sasaran. tangan gua memijat pahanya, kemudian meremas bokongnya. tina diam saja. tina diam saja! dia tak menggubris gua. dia masih sayang-sayangan oleh lelakinya di telepon. gua semakin kalap. sambil meremas bokongnya, kedua jempol gua masuk ke daerah sensitifnya. dan saat jari gua mulai menyetuh vaginanya yang msih dibungkus kancut, tina merespon. tangan gua ditendang dengan dengkulnya.
yang tadinya dia menelepon sambil tidur tengkurep, kali ini sambil tiduran menyamping. dia sempat menatap gua, seolah ngomong, “what are you fucking doing?” gua hanya senyum tanpa dosa menanggapi reaksinya. kemudian, gua tidur disebelah dia. gua udah gak peduli dia mau atau ngga. gua udah terlanjur nekat.
gua tidur menyamping ke arah muka dia. dia diam saja, seolah tidak ada apa-apa. padahal jarak muka gua dengan muka dia hanya dihalangi hp yang dia taro dikupingnya. tina diam saja saat seolah-olah gua mau menciumnya. ini pertanda bagus buat gua. kemudian posisi tiduran gua sedikit menurun, kali ini muka gua tepat diantara belahan dadanya dan lehernya. dan gua mulai mencium leher bagian bawah dia. dia tak merespon, dia tetap menelepon. gua pegang bokongnya dari depan sambil mencoba membuka tali bhnya. dan lagi-lagi dia tak merespon. gua semakin kalap. kalo ini gua udah mencium dadanya. gua merabanya. dia merespon dengan badan yang kelejetan.
tanpa gua sadari, justru nafas gua yang gak stabil. gua dipuncak permainan sendiri. napas gua terdengar cukup keras, karena gua terlalu dekat dengan hpnya, dia menjauhkan kepala gua dari badannya. untuk beberapa saat, gua terdiam diposisi semula. duduk berlawanan dengan tina. daleman tina masih jelas terlihat oleh gua. gua kembali ke posisi semula sebelum tiduran disamping dia.
gua kembali memainkan jempol kaki gua ke pahanya. kemudian sesekali menyentuh vaginanya, yg dengan mudah gua sentuh, karena dia tidur menyamping. kemudian tak lama, dia tampak ditinggal tidur oleh kekasihnya disebrang telepon.
“hallooo.. mass… hallo..” mendapati hal tersebut, gua mengulangi serangan. gua langsung mencium bagian diantara dadanya. dia menaruh hpnya, kemudian kedua tangannya memegang wajah gua, dan ‘plak!’ “kamu kok mesumin aku sih? hah?” ‘plak’ “kok kamu mesumin aku??”
gua hanya tertawa getir kemudian kembali duduk ke posisi sebelumnya. dia kembali tidur tengkurep, kali ini dia tiduran dikasur bagian gua. jadi kakinya, sebagian ada di kaki gua, dan dengan begitu, dalemannya terlihat kembali menantang gua.
tamparan dia ke gua ternyata bukan bentuk penolakan!
gua langsung menindihnya. gua ciumin semua bagian tubuhnya. dia tak menolak dan tak melayani, diam saja. gua semakin liar. badannya gua dorong agar telentang, tapi dia menahannya. posisinya hanya menyamping, persis saat adegan sebelumnya, tapi kali ini gua udah mengeluarkan payudaranya. gua remas. gua hisap.
bangsat! nikmat sekali. jauh lebih nikmat dari tinatun yang dulu. karena kali ini gua bisa liat wajahnya yg keenakan. dia gak mau membuka matanya. dia menikmati sambil merem. gua cium bibirnya, dia tak mambalas, cenderung menolak.
gua fokuskan menikmati payudaranya, sekaligus membuat rangsangan ke dia. dan berhasil! kali ini dia sudah terlentang pasrah. “aaahhh..” sesekali dia mendesah, tak sanggup menahan nafsunya sendiri, dan nafsu gua tentu saja. gua semakin liar. tangan gua mulai masuk ke dalam kancutnya, dia sempat bertahan, namun sebentar saja pertahanannya jebol.
“aaahhhhhhh.. ahhhhhh…” tangan gua sudah di vaginanya. gua sentuh dengan dua dari, mulai dari dubur sampai ke klitorisnya. “aaaaahhhh, jangaannn, jangaaannn..” desahnya.
“gpp, nikmatin aja..” bisik gua. gua belum memasukkan jari gua ke dalam vagina, masih sebatas menyentuh. vaginanya mulai basah. kemudian, sambil terus mengulum putingnya, gua masukan jari gua. dia bergeliat, “aaaauuuaaaaaahhhhhhhh…”
gua serang dia habis-habisan. dalam keadaan nafsu yang membuncah, dia diam, menatap gua sejenak, dan menarik baju gua. dia mengulum bibir gua. kita cipokan! ciumannya penuh nafsu. terlihat sekali. gua semakin bergairah. sambil berciuman dia mendesan, “aaauuuuhhhhhhh..” vaginanya sudah benar-benar basah. dasternya sudah berada di perut. dia sudah dalam keadaan setengah bugil. sedangkan gua masih dengan pakaian lengkap.
kemudian, badannya gua bangunin. gua merubah posisi kali ini. dia yang ada diatas gua. dia menggila diatas gua. sambil terus menikmati jari gua yang mengocok vaginanya, dia mengulum bibir gua. sambil sesekali mendesah, “aaaaauuhhhhh…” gua menggodanya, “aku mesumin kamu ya? yakin nih, aku yang mesumin kamu?” sambil buka celana gua. dia gak merespon ledekan gua. dia menikmati kebejatan ini. dia menggoyangkan vaginanya di antara si ariel yang tegangan tinggi. dia terlihat sangat menikmati. “aaaaaauuuuuwwwwhhhhh, aku tuh gak bisa diginiin. aku nafsuan..” katanya sambil mengulum habis bibir gua.
“ayo, masukin.” kata gua. gua buka kancut gua dalam keadaaan dia masih menindih gua. begitu si ariel keluar dari sarang, dipegang sama dia, gua pikir bakal dimasukin sendiri, ternyata ga semua berjalan seperti yang gua harapkan. dalam keadaan nafsu yang tinggi, tiba-tiba dia bilang, “udah. jangan. jangan. jangan. pulang kamu, pulang. pulang!”
beberapa detik yang lalu suaranya seakan hendak memuaskan hasrat bejat gua, tapi kemudian suaranya terdengar begitu serius. gua pun seketika kehilangan moment. dan mengalah….
Cerita Seks Bebas – Tina Bagian II
Masih di malam yang sama. setelah dia menahan untuk tidak berhubungan badan. gua bangun dari kasur, sambil menahan nafsu yang masih di ubun-ubun. gua gak mau maksa Tina untuk muasin keinginan gua semata, gua mau kita sama-sama menikmatinya. sama-sama melakukannya tanpa ada pihak yang memaksa, meskipun terlihat jelas bahwa pihak yang paling ngebet adalah, gua. tapi dari kejadian yang baru aja gua alami, gua meyakini satu hal kalo dia juga mau.
Tina yang gua kenal manis, lucu, dan santun yang biasa gua temui di Solo, seolah berubah drastis saat di Jakarta. atau mungkin dia gak berubah, hanya saja gua menjumpai sisi lain Tina disini. gua semakin banyak tau seperti apa pola pikir dan kehidupan yang dia jalani. karena saat di Solo, gua gak terlalu lama bersama dengannya. kalaupun kami bersama dalam waktu yang lama, kami tidak seintim seperti sekarang ini. biasanya ada kakak atau saudara yang lain. tapi kali ini gua benar-benar hanya berdua dengannya.
“dasar lu player! mesum!” kata tina waktu gua beranjak dari kasur. Tina masih dalam posisi tiduran. meringkuk seperti menahan sesuatu. gua tau tina lagi berusaha keras menahan nafsunya yang terlanjur membuncah. “hehe, sorry..” jawab gua sambil bakar rokok. gua memandang tina yang masih terlihat seperti lintah digaremin. badannya bergeliat. sesekali nafasnya gak bisa dia kendaliin. “hhhhhhhaaaaahhhh..”
gua merasa masih ada moment untuk serangan selanjutnya. “kamu kenapa?” tanya gua, basa-basi. dia tak menjawab, hanya sesaat menatap gua kemudian kembali menahan sesuatu, sambil membenamkan wajahnya ke bantal. “sekali aja yuk..” kata gua. Tina langsung menjawab, “nggak! keluar kamu! udah jam 11, pulang sana!” kemudian dia membangunkan punggungnya. kali ini posisi dia seperti orang sujud. masih sambil menahan libidonya yang sudah tinggi. melihat dia seperti itu, gua mendekatkan diri ke bokongnya, kemudian dengan gerakan lembut, memeluknya dari belakang, gua sempat mencium leher belakangnya, lalu berbisik, “aku pengen banget nih, kamu juga mau kan..” Tina lalu bangun, dan ‘PLAK!’
gua kena gampar untuk ketiga kalinya. kemudian kami keluar kamar. Tina bermaksud mengantar gua sampai parkiran.
kostan tina ini ada 4 lantai, kamar tina berada di lantai 2. saat turun, gua masih sempat bertingkah mesum ke dia. walaupun berkali-kali di gampar, gua tau, itu bukan gamparan kebencian, melainkan gamparan kode agar gua berusaha lebih keras. hahaha.
mendapati tingkah gua yang masih mesum, tina tidak menunjukkan bahwa dia ilfil sama gua. dia hanya heran, wajahnya seolah tak habis pikir kenapa gua bisa senekat ini. sesekali gua membungkam mulutnya saat wajahnya bereaksi berlebihan terhadap kelakuan gua. “dasar lu, mesum!” katanya. “bodo, yang dimesumin, mau ini.. weee..” balas gua, sambil menggodanya.
malam ini sudah benar-benar gagal. gua melaju kendaraan sambil terus membayangkan kejadian dikamar tadi. gua membayangkan saat jempol kaki gua menyentuh pahanya memberi kode, gua membayangkan reaksinya yang seolah kami ini sepasang kekasih. gua membayangkan saat membuka tali bhnya, menciumi dadanya, kemudian menghisap putingnya. gua masih terus membayangkan wajahnya saat vaginanya gua sentuh, saat gua mengocoknya. ariel tegangan tinggi membayangkan kejadian tersebut.
gua gak bisa melupakan kejadian saat dia diatas gua, mengulum bibir gua dengan nafsu yang tak terkontrol, sambil berbisik, “aku gak bisa diginiin, aku nafsuan..” tapi kemudian sesaat gua kesal sendiri. kenapa dia menahan untuk tidak melakukan hubungan badan? kenapa dia seketika berubah saat tinggal selangkah lagi ariel bersarang hangat di vaginanya? aaakkkhhh… kesal sendiri.
***
Koleksi Cerita Seks Bebas – Tiga hari sejak kejadian senin malam, gua gak menghubungi Tina. gua mencoba sistem tarik ulur yang diajarkan dalam buku panduan 1001 Membuat Wanita Ngangkang Dengan Sendirinya. hehehe. dari pada menghubungi dia, gua memilih menyelidiki Tina lebih jauh. mencari lebih banyak informasi tentangnya. thank, google!
gua menemukan semua akun media sosialnya. facebook, twitter, instagram, dan blog. tapi seperti dugaan gua sebelumnya, Tina bukanlah perempuan yang mengumbar kehidupannya di internet. sedikit sekali yang gua dapat. hanya sebatas beberapa foto, kicauan, dan tulisannya. itu pun tidak menggambarkan kehidupan pribadinya. sial.
tapi iblis seolah membukakan jalan. Tina mengirim pesan ke gua via bbm.
“hey mesum!”
“ping!”
“ping!”
“apa lu, mesam-mesum..” balas gua.
“emang kamu mesum, kok!”
“ckck, ngga, ah! jangan panggil mesum, ntar aku mesumi beneran nih! kamu lagi dimana?”
“lah, kan. emang mesum, kan.. wwoooo, mesum, wooo..” hiyak, mulai manja. mulai menggoda. gua hanya membalas dengan emot =_=*
“aku masih dikantor. eh, sum, besok jumat temenin aku yuk..” liat sodar-sodara, bilang kalo gua mesum, tapi ngajak ketemuan. apalagi maunya kalo bukan di mesumin?
“ayok, kemana?” balas gua, sok santai.
“aku mau ketemu client di daerah kembangan. mau gak? bisa gak?”
“dimananya? dari puri indah mall?”
“iya, deket-deket situ..”
“oke, siap. kabarin aja..”
***
jum’at malam, gua sudah bersama Tina lagi. setelah menemani dia muter-muter jakarta, lebih tepatnya nganter sih, kek tukang ojek. kami mampir ke salah satu tempat nongkrong yang ada di pasar festival kuningan. kami ngobrol ngalur-ngidul. berbincang soal isu yang tengah berkembang, soal politik, dan tentu saja soal kehidupan pribadi. tina begitu senang bisa merantau dan menata karirnya di Jakarta. dia bercerita bagaimana tertekannya dia selama ini. saat dia bertanya soal kehidupan gua saat SMA dan Kuliah, dia begitu excited mendengarkannya. bagi dia, tidak ada yang lebih menyenangkan dari kehidupannya yang sekarang.
dia bertemu orang baru, menjalani profesi baru, dan sangat tau langkah-langkah yang akan dia jalani selama merantau. semua jelas dengan rencana yang sudah di gambar. dia begitu bergairah untuk sukses. dia sangat ingin membahagiakan ibu dan keluarganya. sebenarnya tina ini bukan dari keluarga yang miskin-miskin amat. justru cenderung berkecukupan. tapi dia dan keluarganya memang nyaman dalam kesederhanaan. sampai akhirnya obrolan kami membahas tentang percintaan. bahasan yang sangat dekat kaitannya dengan seks. dan ini lah yg gua tunggu-tunggu.
tina sudah menjalin kasih dengan pacarnya yang berada di Bogor selama 3 tahun. dalam kurun waktu 3 tahun itu, tina mengaku, jarang sekali bertemu. bisa dihitung dengan jari. “kalo ketemu, main dong?” tanya gua dengan wajah yang menggoda. “dia gak semesum kamu!” jawabnya, kesal.
dari kebersamaan kami hari itu, dari obrolan yang kesana-kemari, gua menyadari satu hal, bahwa, tina ini bukan tipe wanita yang mudah ditaklukkan oleh lelaki hidung belang macam kalian. iya, kalian yang membaca ini. termasuk yang nulis. tina ini cenderung orang yang memikirkan dan melakukan sesuatu untuk masa depannya ketimbang hanya sekedar menikmati masa sekarang. hidupnya selama ini dijalani dengan, belajar, belajar, dan belajar!
saat sma dan kuliah, menurut pengakuannya, dia sudah harus paham bab selanjutnya dari bab yang baru akan dibahas hari ini di kelas. bayangkan, seperti apa kelakuannya di kelas. pasti kalian punya teman dikelas yang seperti ini. disaat kita bahkan baru mendengar pelajaran dari bab tersebut, dia sudah mengerti pelajaran dari bab selanjutnya. sinting! “aku tuh gak ada waktu buat galau-galauan. buat pacaran yang kaya orang-orang. buat ngelakuin kegiatan-kegiatan gak jelas..” katanya, waktu menceritakan seperti apa dia saat SMA dan Kuliah.
“paling kalo pacaran dirumah aja. itu juga ibu ikutan nimbrung.. gak bisa ngapa-ngapain..”
“beda sama kamu! aku tuh yakin ya, kamu itu kalo pacaran pasti ngapa-ngapain. aku tuh sering dicurhatin sama temenku tentang kelakuan cowonya. ya model kaya kamu ini..” katanya, offensive.
“kenapa, aku? yee, ga usah nyama-nyamain orang deh.” defend. “aku mah orangnya, menyenangkan. penuh perhatian dan penyayang..”
tina hanya merespon dengan muka yang seolah ngomong, “apa sih, lu!” gua hanya tertawa dan melakukan sedikit kontak fisik.
“tapi emang, bener kan. aku orangnya menyenangkan?” tanya gua, seolah butuh pengakuan. tina tampak gemas dengan pertanyaan gua, kemudian membungkam mulut gua sambil berkata, “menyenangkan, mbahmu!” “ya, mbah gua, orang tua lu, bego!” jawab gua, dan kami berdua tertawa.
saudara-saudaraku sekalian, maafkan gua karena pertemuan hari itu tak membuat ariel-ariel kalian tegang. begitupun ariel gua. tapi setidaknya, dari pertemuan itu, gua semakin tau lebih banyak tentang dia. dengan tau lebih banyak tau tentang dia, maka gua semakin tau langkah-langkah apa yang akan gua pakai untuk memakainnya. huahahaha.
***
orang rumah gua belum ada yang tau, kalo tina sekarang bekerja di Jakarta. Tina pun sebenernya enggan memberi kabar karena takut malah merepotkan keluarga gua. tapi setelah gua bujuk, akhirnya dia memberi kabar. dan hari sabtu gua disuruh bokap untuk jemput tina. tina akan menginap dirumah gua. sekali lagi gua ulangi, tina akan menginap dirumah gua! kesempatan akhirnya datang lagi!
tina meminta gua untuk menjemputnya di kantor. padahal gua bersikukuh untuk menjemputnya di kostan. tapi ternyata dia paham niat busuk gua. akhirnya gua mengalah untuk menjemputnya di kantor. saat kami hendak meninggalkan kantor, seolah iblis memenangi duel dengan malaikat. tina ditelepon temannya untuk mengambil bahan kerjaan untuk dikerjakan dan harus sudah selesai senin pagi. kami pun melaju ke kostan temannya yang tak jauh dari kostan tina.
setelah lebih dari setengah jam menunggu temannya yang tak kunjung datang.
“nungguin dikostan kamu aja yuk..” kata gua dengan muka menahan pup. iblis tau betul cara agar tina bersedia menunggu di kostannya. tina sempat ragu, tapi gua meyakinkan dia kalo gua udah gak bisa nahan. dia juga tampak kesal menunggu temannya, dan akhirnya bersedia menunggu dikostannya. setelah menelpon temannya kami bergerak ke kostan.
sesampai dikamar, setelah dia membuka pintu, gua sekonyong-konyong masuk ke kamar mandi, tina tampak celingak-celinguk. tapi karena gua benar-benar sudah tak tahan, gua pun tak mempertanyakannya. didalam kamar mandi, saat sedang pup, pikiran gua setelah terbebas dari kotoran dipantat, terpenjara oleh kotoran yang ada di kepala. gua membayangkan, saat keluar kamar mandi tina sudah mengenakan daster kremnya waktu itu. gua membayangkan tina sudah dalam posisi tengkurep seperti malam sebelumnya. dasar mesum!
saat keluar kamar mandi, ternyata yang gua bayangkan tidak kejadian. justru sebaliknya, tina masih dengan pakaian kantornya dan memakai atasan tambahan untuk menutupi seragam kantornya dengan cardigan. dia berdiri didepan cermin yang cukup besar sambil chat dengan temannya. gua memberanikan diri menghampirinya. kami saling bertatapan di cermin.
kemudian yang terjadi kami seolah sepasang kekasih. gua peluk dia dari belakang. tangannya masih memegang hp. gua cium leher belakangnya. tampak bulu-bulu disekitar punggungnya berdiri. gua tau dia sudah memperkirakan ini akan terjadi, dan faktanya, dia pun sudah menantikan hal ini. sambil terus menciumi leher belakang dan punggungnya, cardigan yang baru saja dia pakai, gua lepas. kali ini hpnya sudah gua rampas, dan gua taruh dimeja samping cermin. dia tak berekasi. tangannya masih diposisi sedang memegang hp.
gua kembali melancarkan serangan. tangan gua melingkar diperutnya. gua cium sambil menghembuskan nafas ke area sekitar kupingnya. dia semakin pasrah, menikmati situasi. tangannya gua arahkan untuk merangkul gua yang ada dibelakangnya. gua kemudian meraba-raba payudaranya. sambil terus memberikan sentuhan bibir diarea kuping dan lehernya. dia pun takluk. badannya kemudian berbalik ke arah gua. kami pun berciuman. dia buas sekali. seolah, meskipun dia tak ingin kejadian ini terjadi tapi dia siap menikmati bila benar-benar terjadi. bingung? tak perlu kawan, karena agedan berikutnya, tak akan membuat kalian bingung.
kami berciuman penuh nafsu. nafas kami berdua sudah bercampur dengan iblis yang sedari awal membantu kami berbuat mesum. gua sambil meremas payudaranya. sesekali dia menggigit bibir gua. lidahnya maju mundur memainkan gerakan. sesekali memutari bibir gua. mendapati situasi ini, tangannya gua arahin ke ariel yang sudah mulai bangun. gua hanya mengarahkannya sekali, setelah itu dia dengan tangkas meremas-remas ariel dengan lembut. ariel tegangan tinggi. kami masih terus berciuman. gua mulai memegang bagian vaginanya. tapi dia menahan laju tangan gua. wajahnya mengindikasikan kalo saat ini bukanlah waktu yang tepat. seketika tangan gua pindah jalur. gua meremas-remas payudaranya.
seragam kantornya dengan kancing yang sudah terbuka dua biji, gua buka lagi biji kancing yang lain. sudah hampir terbuka semua kancing seragamnya. gua kemudian mengangkat bhnya, mengeluarkan payudaranya. dia sedikit mendesah ketika payudaranya sudah tak lagi ditutupi oleh beha yang talinya masih terpasang, “aaaahhh…”
gua menjilat payudaranya. gua mainkan putingnya dengan lidah. dia semakin bergeliat. saat gua mulai menyusui payudaranya, cengkraman tangannya membuat ariel gak bisa napas. dia mencengram ariel terlalu kencang. kemudian gua kembali menciumnya sambil berbisik, “jangan kenceng-kenceng, dong..” gua terus menyerangnya. menciumi leher, dada, dan payudaranya. putingnya tampak tegak. menandakan bahwa dia sudah dipuncak nafsu. gua sangat menikmati payudaranya. ukurannya tak terlalu besar, namun begitu ranum saat dipegang. putingnya tak terlalu besar, juga tak terlalu kecil. pas dengan ukuran payudara dan badannya. tampak indah sekali payudaranya. setiap kali gua hisap, dia mengerang keenakan. tapi juga terlihat kalo dia menahan suara erangannya/desahannya. “sssssssss…aaahhhh..”
“buka..” kata gua saat dia meremas ariel. dia sejenak tak bereaksi. antara malu melakukannya, dan itu tadi, bukan waktu yang tepat. tapi gua kembali menyuruhnya, dan dia bersedia. ariel tegak berdiri dengan kepala yang mendongak keatas. tangan tina naik turun mengocok ariel dengan pegangan yg kurang sempurna. kemudian, gua merendahkan badannya. memintanya untuk jongkok. awalnya dia tidak mau. tapi gua terus memberikan serangan. akhirnya dia pun mau bersiap untuk oral.
dia tepat dibawah gua. jongkok dengan seragam yg masih terbuka. kemudian mengocok ariel dengan genggaman yang sempurna. berbeda dengan pegangannya saat sambil berdiri. gua msih meremas-remas payudaranya dengan jangkauan yang cukup sulit. kemudian hanya memainkan putingnya dan mendekatkan kepalanya agar segera melakukan oral. dia terdiam sejenak. memandangi ariel yg sudah amat tegang didepan matanya. kemudian dia menoleh kearah gua.
“ah, jangan-jangan kejadian lagi? jangan-jangan dia akan menolak, dan menyudahi permainan ini?” batin gua, saat dia menatap gua penuh tanda tanya. gua gak kehabisan akal. gua menunjukkan raut wajah seolah sangat menikmati apa yang kami lakukan, dan meyakinkannya, tentu masih dengan raut wajah, untuk tak perlu ragu. dan dia pun kembali ke jalur permainan.
saat dia baru membuka mulutnya dengan ragu-ragu, gua langsung mengarahkan ariel masuk ke mulutnya. jlebb.. hangat.. dia tak bereaksi. diam saja. kemudian justru gua yang begoyang. maju-mundur memainkan ariel didalam mulutnya. setelah beberapa gerakan, barulah dia tak sungkan memberikan gua oral. kedua tangannya memegang bokong gua. lalu dengan gerakan malu-malu, mulai mengulum ariel. menjilati batang, mengulum lagi. terus diulangi, sambil sesekali mencium tempurung ariel dan menghisap dua bola ariel. nikmattt..
saat jalan menuju crot tinggal selangkah, hp dia bergetar. tanpa ba-bi-bu dia langsung bangun sambil merapikan pakaiannya. membalas pesan, dan bersiap untuk keluar kamar. gua membeku dengan ariel yang lagi tegang-tegangnya. raut wajah gua penuh dengan pertanyaan, “tidak bisa kah, kau, menyelesaikan dulu pekerjaanmu, duhai adik?”
saat hendak keluar kamar, kami bertatapan, wajah gua masih mempertanyakan kelakuannya. dia hanya membalas dengan menjulurkan lidahnya. manja dan menggoda sekali gerakannya. kemudian dia keluar kamar menemuin temannya. tinggalah aku sendiri berdiri didepan cermin dengan ariel yang tampak gagah nan limbung ini. “bbaaaabbbiii, nih, cewe…”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar